RUMAH MOTIVASI ONLINE, ditulis oleh Cecep Y Pramana
Twitter: @CepPangeran |
Path: Cepy Pramana | Facebook: Cepy Pramana | Instagram: CepPangeran | Foursquare: Cecep Y Pramana | Kompasiana: cepypramana


Kamis, 25 Februari 2016

Delegasi IZI Hadir di Konferensi Filantropi Asia Tenggara ke-4 di Bandung

BANDUNG - Lembaga Amil Zakat Nasional Inisiatif Zakat Indonesia (LAZNAS IZI) hadir ditengah acara Konferensi Filantropi Islam Asia Tenggara ke-4 di Bandung, Jawa Barat. Acara bertajuk “4th South East Asia International Islamic Philanthropy Conference” (Konferensi Filantropi Islam Asia Tenggara ke-4) ini berlangsung selama tiga hari, 25-27 Februari di Hotel Golden Fower Bandung, Jawa Barat.

Hadiri sejumlah tamu dan delegasi dari dalam dan luar negeri, terutama dari Asia Tenggara ditambah dari negara Thailand dan New Zealand. Dari Indonesia akan hadir dari unsur pemerintah, organisasi pengelola zakat, organisasi pengelola wakaf, komunitas dan forum zakat, akademisi, peneliti zakat dan ekonomi syariah, para praktisi bisnis dan ekonomi syariah, NGO serta masyarakat umum.

Menurut panitia, delegasi yang sudah memastikan hadir selain dari Indonesia adalah delegasi pengelola Ziswaf dari Malaysia, UiTM (Universiti Teknologi MARA), CIPSF (Center for Islamic Philanthropy and Social Finance) Malaysia, AIM (Amanah Ikhtiar Malaysia), PPZ (Pusat Pungutan Zakat) Malaysia, delegasi pengelola ZISWAF dari Brunei Darussalam, Warees Singapore, Organisasi Zakat Filipina, delegasi lainnya adalah Pengelola ZISWAF dari Thailand, Vietnam, Myanmar dan Awqaf New Zealand.

Acara ini diselenggarakan dengan 4 (empat) tujuan yaitu; (1) mengidentifikasi tingkat tata kelola perzakatan dan perwakafan khususnya di Asia Tenggara, (2) menggagas South East Asia Islamic Philanthropy Association (SIPA), (3) Sharing best practice program zakat dan wakaf di Asia Tenggara dan (4) Meningkatkan kerjasama lintas negara dan lintas organisasi di Asia Tenggara.

Selain itu, dari konferensi ini diharapkan mendapat kajian mendalam untuk pengembangan kemampuan lembaga-lembaga filantropi Islam di Asia Tenggara dalam mengelola potensi ZISWAF di Kawasan Asia Tenggara yang sangat besar. Di prediksi, kawasan Asia Tenggara memiliki potensi terbesar kedua setelah kawasaan Timur Tengah.

Dari hasil kajian nantinya, diharapkan terjalin kerjasama dan sinergi diantara para praktisi dan akademisi di bidang filantropi yang ada di kawasan ini untuk bisa memberikan kontribusi yang lebih baik di masa mendatang. Harapan lainnya, acara ini sebagai wadah untuk kembali menggelorakan semangat yang pernah dicetuskan dalam Forum MABIMS dan Dewan Zakat Asia Tenggara serta mengiringi perkembangan komunitas wakaf Asia serta New Zealand.

Delegasi LAZNAS IZI yang hadir diwakili Direktur Pendayagunaan, Nana Sudiana. Selain menyerap seluruh informasi dan kajian yang berkembang di forum konferensi, lewat paper yang akan dibawakan di dalam forum nanti, delegasi IZI berharap secara singkat mengenalkan IZI kepada seluruh audience yang ada di konferensi ini. Paper yang dibawakan Nana Sudiana berjudul, “Upaya Lembaga Amil Zakat Nasional Menyesuaikan diri dengan Regulasi dalam Perspektif Manajemen Risiko (Studi Kasus Spin Off Laznas IZI dari Lembaga Kemanusiaan Nasional PKPU)”.

Inti dari paper ini menjelaskan pengalaman PKPU melakukan spin off IZI adalah hal luar biasa. Di saat lembaga-lembaga lain mengalami kendala menyesuaikan diri dan memenuhi persyaratan mendapatkan legalitas yang sesuai dengan UU No.23 Tahun 2011 Tentang Pengeloaan Zakat dan turunannya (PP No.14/2014 dan KMA 333/2014) ternyata PKPU saat yang sama membelah lembaga-nya (spin off). Dari tadinya hanya PKPU menjadi PKPU dan IZI.

“Ini sesuatu yang luar biasa bagi dunia zakat di Indonesia, bahkan mungkin di dunia. Menyesuaikan diri dengan regulasi dengan menggunakan strategi spin off. Hanya dunia perbankan yang selama ini berani melakukan pola spin off dan dalam praktiknya, tidak semua bisa sukses sesuai rencana semula,” kata Nana.

Jadi ketika PKPU men-spin off kan IZI, lanjut Nanan, sesunguhnya dalam perspektif kajian manajemen risiko, hal ini sangat tinggi risikonya, apalagi bila dibanding dengan lembaga lain yang hanya mengambil pilihan meneruskan atau mengurus legal dengan nama lembaga dan brand yang sama dengan sebelumnya.

“Di forum konferensi ini IZI berharap bisa menceritakan bagaimana PKPU menyiapkan dan memisah (spin off) IZI untuk seterusnya mendapatkan legalitas pengelolaan zakat di level nasional. Implementasi model filantropi Islam di sejumlah Negara memang berbeda-beda dan memiliki kekhasan tersendiri,” ungkap Nana.

Nana menambahkan IZI ingin berbagi kepada peserta yang hadir bagaimana IZI melakukan strategi memulai mengelola zakat di Indonesia dengan regulasi zakat terbaru. “Harapannya kehadiran IZI dan juga utusan atau delegasi dari masing-masing negara mampu memperkaya pandangan dalam penghimpunan hingga pengelolaan dana umat ini,” pungkas Nana. (Asmadiredja)



Artikel Terkait:



0 komentar :

Posting Komentar