RUMAH MOTIVASI ONLINE, ditulis oleh Cecep Y Pramana
Twitter: @CepPangeran |
Path: Cepy Pramana | Facebook: Cepy Pramana | Instagram: CepPangeran | Foursquare: Cecep Y Pramana | Kompasiana: cepypramana


Selasa, 21 April 2015

Antara Kartini dan Khadijah

"Selamat Hari Kartini 2015, kaum perempuan Indonesia. Jadilah kekuatan bangsa yang tangguh menuju negara Maju di Abad 21 ini. *SBY*," tulis suami Ibu Ani Yudhoyono itu melalui akun Twitter yang dikutip Selasa (21/4/2015).

Begitu istimewa Kartini. Namanya dipuja, setiap tahun oleh rakyat Indonesia. Lantas, adakah Kartini di masa Rasulullah SAW? atau adakah yang lebih istimewa dari Kartini pada waktu itu?

Setahun sepeninggal Khadijah, datanglah seorang wanita dan bertanya kepada Rasulullah SAW, “Ya Rasulullah, apakah engkau tidak akan menikah lagi? Padahal engkau mempunyai tujuh keluarga yang siap menerima permintaanmu. Pernikahan adalah perkara yang harus diputuskan oleh seorang laki-laki.” Nabi pun menangis dan menjawab, “Adakah seorang (yang aku cintai) setelah Khadijah?”

Jika Allah SWT tidak memerintahkan Muhammad SAW untuk menikah setelah itu, mungkin nabi tidak akan menikah lagi. Sebagai seorang laki-laki, nabi Muhammad SAW tidak menikah kecuali dengan Khadijah. Setelah itu, pernikahan beliau adalah pernikahan-pernikahan sebagai tuntutan risalah kenabian.

Beliau tidak pernah melupakan istri pertamanya sama sekali, hingga empat belas tahun sepeninggalnya. Saat fathul Makkah (penaklukan kota Mekkah). Kaum Quraisy, semuanya datang kepada beliau untuk meminta maaf. Saat itu, seorang wanita tua datang kepadanya dari kejauhan.

Rasulullah SAW pun meninggalkan semua orang untuk bertemu dan berbicara dengannya. Beliau melepaskan mantelnya, dan membentangkannya di atas tanah. Beliau duduk bersama wanita tua itu di atasnya.

Kejadian tersebut mengusik hati Aisyah. Sehingga ia bertanya, “Siapakah wanita itu Ya Rasulullah? mengapa engkau memberikan semua waktu dan perhatian kepadanya?.” Beliau menjawab, “Dia adalah sahabat Khadijah.” Aisyah kembali bertanya, “Apa yang kalian bicarakan?” Beliau pun menjawab, “Kami membicarakan tentang hari-hari Khadijah.”

Karena cemburu, Aisyah pun berkata, “Apakah engkau masih mengingat wanita tua itu, padahal ia telah ditutupi tanah (meninggal) dan Allah telah menggantinya dengan yang lebih baik?.”

Nabi pun menjawab, “Demi Allah, Allah tidak menggantikanku dengan orang yang lebih baik darinya, dia telah menghiburku saat semua manusia mengusirku. Dia juga telah mempercayaiku saat semua manusia mendustaiku.”

Mendengar itu, Aisyah merasa Nabi marah. Ia pun meminta maaf dengan berkata, “Maafkanlah aku wahai Rasulullah.” Beliau menjawab, “Minta maaflah kepada Khadijah, hingga aku bisa memaafkanmu.” (HR Bukhari dari Aisyah ra)

Bagaimana bisa cinta Rasulullah kepada Khadijah, tetap bersemi, walau pun ia telah meninggal empat belas tahun? Itulah cinta yang tidak didahului oleh hubungan-hubungan yang diharamkan. Juga dikarenakan ketaatan kepada Allah SWT adalah sumber utama rumah tangga Rasulullah dan Khadijah. Rumah tangga yang selalu mengingat Allah SWT, bukan mengingat setan. Wallahu A’lam Bishshowab


Artikel oleh: Ustadz Adi Setiawan, Lc, MEI | Biro Kepatuhan Syariah PKPU | Email: ibnu_mustofa@yahoo.com | Follow twitter: @ibnumustofa



Artikel Terkait:



1 komentar :

Posting Komentar