RUMAH MOTIVASI ONLINE, ditulis oleh Cecep Y Pramana
Twitter: @CepPangeran |
Path: Cepy Pramana | Facebook: Cepy Pramana | Instagram: CepPangeran | Foursquare: Cecep Y Pramana | Kompasiana: cepypramana


Rabu, 25 Maret 2015

Nabi SAW, Sosok Panutan Ideal


Nabi Muhammad SAW merupakan suritauladan dan panutan dalam hidup keseharian. Karena itu, umat Islam harus mencintainya dengan penuh keimanan. Karena Nabi SAW merupakan utusan terakhir Allah SWT dan juga sosok panutan yang ideal.

Di dalam surat At-Taubah, Allah SWT menyebutkan akan mendatangkan musibah bagi orang-orang yang lebih mencintai sesuatu dibandingkan dengan Allah dan Rasulnya. Beberapa ulama tafsir juga menjelaskan bahwa Allah SWT akan menurunkan azab bagi umat yang lebih mementingkan sesuatu itu dari pada Allah dan Rasulnya.

Bila dikaji lebih jauh, maka bencana yang terjadi di negeri ini diantaranya kebakaran, tanah longsor, banjir, kecelakaan yang bertubi-tubi dan lainnya, merupakan peringatan dari Allah SWT.

Karena itu, agar bangsa Indonesia kembali mengingat, mencintai Allah SWT dan Rasulnya agar bencana yang terjadi di negeri ini tidak berubah menjadi azab Allah, dan para pemimpin di negeri ini berlaku adil agar bencana yang terjadi berhenti dan tidak terjadi kembali.

Untuk membentuk karakter pemimpin yang baik tidak semudah membalikkan tangan, tetapi harus melalui proses. Sebelum diangkat Allah SWT menjadi rasul terakhir, Nabi SAW melaluinya dengan proses yang panjang, hingga akhirnya pada usia 40 tahun, diangkat menjadi utusan terakhir Allah bagi seluruh umat manusia.

Terkadang sebagai orang tua kita tidak memperhatikan hal-hal kecil itu, dengan alasan cuma anak-anak dapat dimaklumi. Misalnya seorang anak makan harus dengan tangan kanan, dan sebelum melakukan kegiatan apapun harus membaca basmalah.

Sebagai orang tua, kita wajib mengingatkan jika anak berbuat tidak baik. Diharapkan dengan proses yang sepele tersebut akan mencetak pemimpin dengan akhlak yang baik dan mulia. Karena salah satu untuk membentuk pemimpin yang berakhlak baik, maka dapat dimulai dari hal-hal yang dianggap sepele. Wallahua’lam | Cecep Y Pramana Twitter: @CepPangeran Path: Cepy Pramana Instagram: CepPangeran



Artikel Terkait:



0 komentar :

Posting Komentar