RUMAH MOTIVASI ONLINE, ditulis oleh Cecep Y Pramana
Twitter: @CepPangeran |
Path: Cepy Pramana | Facebook: Cepy Pramana | Instagram: CepPangeran | Foursquare: Cecep Y Pramana | Kompasiana: cepypramana


Rabu, 18 Februari 2015

Si Cantik Yang ‘Melumpuhkan’

Mengunjungi event istimewa sekelas dunia memiliki kenikmatan tersendiri. Ya, namanya event kelas dunia, pastinya banyak hal-hal yang baru yang belum pernah ditemui.

Seperti pameran Indonesia International Motor Show (IIMS) yang baru-baru ini dilaksanakan di area PRJ Kemayoran, Jakarta Pusat.

Aneka mobil dan sepeda motor dari berbagai belahan dunia, tersedia di event IIMS ini. Mulai yang harganya murah sampai harga mahal bahkan muuaahal (artinya mahal sekali mencapai puluhan milyar). Teknologi yang di punya pun canggih-canggih.

Ada mobil yang bisa dijalankan hanya dengan menggunakan suara dan gerakan tubuh. Ingin mobilnya maju, maka badan sopir pun bergaya maju, ingin mobil belok kiri maka badan sopir pun miring ke kiri, dan seterusnya. Akupun berdecak kagum.

Dibalik semuanya itu, para peserta IIMS juga ‘menampilkan’ tenaga penjualan yang sebagian besar diisi oleh perempuan yang berparas cantik, berpakaian minim dan kadang sedikit menggoda, kita kenal dengan nama SPG (Sales Promotion Girls).

Sekilas saya memperhatikan bahwa semakin mahal harga mobil maka SPG nya pun semakin cantik dan cerdas. Beberapa SPG ternyata mengusai beberapa bahasa (bukan hanya bahasa Indonesia), seperti bahasa Ingris dan bahasa Cina.

Dalam benak saya sempat muncul pertanyaan, “Mengapa semua peserta IIMS menggunakan SPG yang cantik dan berpakaian minim dan seksi. Mungkinkah para SPG yang cantik dan cerdas itu tampil dengan busana hijab?

Apa hubungannya SPG yang cantik, seksi dan sedikit menggoda dengan penjualan mobil dan sepeda motor mewah tersebut? Setumpuk pertanyaan terus saya olah dan saya hubungkan dengan ilmu yang saya tekuni, Neurosains.

Bersamaan itu, tidak jauh dari saya, seorang SPG berdiri tepat di samping kiri mobil mewah. Nampak seorang bapak separoh baya sedang berdialog serius dengan SPG tersebut. Kedengarannya, SPG tersebut sedang menjelaskan kehebatan mobil mewah tersebut.

Sesaat, saya sempat memperhatikan gesture tubuh dan tutur bahasa SPG tersebut. Dalam beberapa detik, pikiran saya berkata bahwa akan ada proses pembelian mobil mewah tersebut. Benar saja. Mobil mewah seharga milyaran tersebut terjual dengan sempurna.

Kemudian, saya pun duduk di salah satu booth peserta pameran ini, muncul pertanyaan dari salah satu sahabat saya tentang peran SPG dari perspektif Neurosains (khususnya NeuroBranding). Untung saya sudah punya jawaban.

Untuk menciptakan kenyamanan para pengunjung, begitu jawaban yang saya copy paste dari salah satu coordinator SPG. Meskipun, dapat juga menciptakan “jebakan-jebakan” yang melumpuhkan otak rasional pembeli, tambahan dari saya.

Para pembeli tidak lagi memiliki kemampuan rasionalnya untuk mempertimbangkan pilihan-pilihan pembelian yang baik dan tepat, karena otaknya telah terdominansi oleh “otak emosi” sebagai dampak dari kepiawaian “bujuk rayu” para SPG.

Hemmm, Benarkah demikian?

Bagi siapapun yang menghadiri pameran mobil sekelas dunia seperti IIMS ini merupakan aktivitas yang menyenangkan, apalagi bagi para milyander yang memiliki rencana membeli mobil baru nan mewah. Pasti semangat banget.

Saat proses pembelian terjadi, otak melampiaskan otoritasnya untuk menentukan sesuatu yang di senangi. Otak manusia cenderung ingin memuaskan dirinya dengan hal-hal yang emosional, seperti segala sesuatu yang menyenangkan. Menciptakan suasana senang apalagi penuh kenikmatan, sangat disukai oleh otak.

Sistem imbalan (reward system) yang dijalankan oleh VTA (ventral tegmentum area), NA (nucleus akumbens) dan Dopamin akan memainkan peran ini. Memainkan “sistem imbalan” kalau tidak hati-hati akan menjadikan kita kehilangan kendali. Melimpahnya kadar dopamine dalam otak membuat “otak direktur” (cortex prefrontal) kebanjiran dopamine dan menjadi lumpuh.

“Otak direktur” yang berperan sebagai kendali dan membuat pertimbangan pengambilan keputusan rasional, menjadi tak bisa berfungsi seperti biasanya, tak bisa memilih dan tak bisa menawar. Keputusannya menjadi emosional dan tak rasional lagi, otak instingnya (amigdala dan otak reptil) menjadi sangat aktif dan dominan, mendominasi “otak direktur” agar tidak bisa lagi berpikir benar.

Dalam kondisi ini, kita pun terasa nyaman meskipun “otak direktur” kita tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Dalam kondisi seperti inilah boleh jadi, kontribusi peran para SPG yang cantik dan seksi itu terjadi. Di sadari atau tidak oleh para SPG bahwa mereka telah membuat “otak emosi” para pembeli selalu aktif (terutama saat transaksi) dan memudahkan terjadinya proses pembelian.

Menstimulasi 'Otak Emosi'

“Otak Reptil” atau disebut juga “otak vegetasi” adalah bagian otak yang fungsinya mendukung kegiatan vegetatif tubuh manusia seperti bernafas, pengaturan tekanan darah, mengatur irama jantung dan fungsi-fungsi mempertahankan hidup serta fungsi keawasan dan kepepekaan terhadap sekelilingnya (awareness).

Bersama dengan sistem limbik, “otak reptil” bertanggungjawab terhadap pengaturan emosi manusia. Ia mengelola “otak emosi” kita. Bau-bauan yang menggoda, suara-suara romantik, rasa yang menggiurkan, sentuhan sensasional dan warna/bentuk/simbul yang memikat, semuanya ini membuat “otak emosi” menjadi sangat aktif.

Seperti kehadiran para SPG yang cantik dan seksi itu, membuat fungsi keawasan dan kepekaan “otak reptil” menjadi aktif, yang membuat anda terpesona pada SPG dan mobil jualannya. Bagaimana menurut anda?


Artikel oleh: dr Amir Zuhdi, MHA | NeuroscienceForLife-NeuroBranding Specialist
Ingin ngobrol-ngobrol, diskusi dan konsultasi, sila follow twitter: @amirzuhdi



Artikel Terkait:



2 komentar :

Posting Komentar