RUMAH MOTIVASI ONLINE, ditulis oleh Cecep Y Pramana
Twitter: @CepPangeran |
Path: Cepy Pramana | Facebook: Cepy Pramana | Instagram: CepPangeran | Foursquare: Cecep Y Pramana | Kompasiana: cepypramana


Kamis, 26 Februari 2015

Nasib Penguasa Dunia di Hadapan Maha Penguasa

Di padang mahsyar, pada hari kiamat nanti, para raja-raja dunia, para penguasa dan pemimpin dunia, akan berjatuhan di hadapan Allah SWT. Sang Penguasa hari pembalasan. Firman Allah SWT, “Yang menguasai hari pembalasan”. (QS Al Fatihah: 4)

Abu Jahal, pemimpin kafir Quraisy, pernah berkata kepada Rasulullah SAW, “Wahai Muhammad, apakah kamu mengancamku dengan az-zabaniyah (malaikat-malaikat yang menjadi tentara Allah), sungguh akan aku datangkan, bersamaku para pembesar Quraisy untuk membelaku pada hari kiamat nanti.

Allah SWT langsung menjawab pertanyaan Abu Jahal ini, dalam firman-Nya, “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan, Yang Maha Pemurah sebagai seorang hamba. Sesungguhnya Allah menentukan jumlah mereka, dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti. Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri.” (QS Maryam: 93-95).

Di sana nanti, pada hari kiamat, tidak ada lagi istilah perkumpulan ini, golongan itu, kelompok A, persatuan B, ikatan ini, organisasi itu, dan yang pasti tidak ada lagi pengawal pribadi. Namun orang-orang yang senang menyebarkan keraguan berkata, “Bukankah di hari kiamat nanti kita berkumpul, berdesak-desakan, jika demikian maka dengan mudah kita akan melarikan diri.”

Omong kosong mereka ini terbantahkan dengan firman-Nya: “Sesungguhnya Allah menentukan jumlah mereka, dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti. Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri.”(QS Maryam: 94-95). Semua orang akan datang menghadap pengadilan Allah SWT dengan sendirian.

Dalam sebuah hadits riwayat Imam Malik, bahwa apabila Allah SWT telah memegang langit dan bumi dengan tangan-Nya, kemudian bertanya “Siapakah yang berkuasa hari ini?”. Maka raja-raja di dunia yang telah diagungkan, nabi-nabi yang telah diutus. Semuanya, hanya terdiam, tidak mampu menjawab. Allah SWT berfirman, “Sungguh Hanya milik Allah, Yang Maha Esa dan Maha Berkuasa”. Sehingga akhirnya Allah SWT bertanya lagi, “Kemanakah raja-raja dunia itu?”.

Diriwayatkan pula oleh Asma’ binti Zaid, bahwa Rasulullah SAW bersabda apabila orang-orang di awal dan di akhir zaman dikumpulkan, maka Allah SWT berfirman, “Wahai manusia sesungguhnya, Aku telah menjadikan satu nasab, namun kalian menjadikannya beberapa nasab. Lalu kalian meninggikan nasab-nasab itu di atas nasab yang Aku jadikan. Maka hari ini, akan Aku angkat nasab-Ku di atas nasab kalian.” (HR Ahmad).

Ini adalah hari pembuktian dari firman-Nya, “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah, ialah orang yang paling bertakwa”. (QS Al Hujurat: 13).

Dewasa ini, sebagian manusia ada yang menjadikan simbol, gelar, pangkat, jabatan adalah lambang kesucian dan kemulian manusia. Padahal Rasulullah SAW sebagai uswatun hasanah, tidak mencotohkan seperti itu.

Imam Ahmad meriwayatkan, pernah datang pada Rasulullah SAW rombongan yang dipimpin oleh Amir bin Sha’sha’ah, mereka berkata, Engkaulah yang paling mulia, engkaulah yang paling agung. Mendengar itu, Rasulullah SAW pun menjawab, “Wahai manusia katakanlah sesuka kalian, namun jangan sampai kalian dijadikan setan sebagai temannya. Sesungguhnya aku hanyalah hamba Allah dan utusannya”.

Allah SWT, Malikiyaumuddin, Yang menguasai hari pembalasan. Apabila seorang muslim meyakini bahwa nanti akan ada hari pembalasan, pastilah ia akan ridha, berserah diri kepada Allah. Dia yakin, luka dan kepedihan akan terobati, kesedihan dan tetes air mata akan punah, kezhaliman dan kesusahan yang dirasakan selama di dunia mampu ia hadapi.

Seorang filosof Jerman, Emmanuel Kant, pendiri ‘teori eksistensialisme’ berkata, alam ini hanyalah sandiwara, episode pertama adalah kehidupan dunia, dan episode kedua ialah kehidupan selanjutnya.

Episode kedua adalah hal terpenting, sebab dalam episode pertama, panggung dunia, sering terjadi kezhaliman, orang yang zhalim dan di zhalimi. Oleh sebab itu episode kedua adalah kesempatan bagi mereka, yang dizhalimi untuk mencari keadilan dan pembelaan.

Dan sebenarnya teori ini telah ditemukan oleh para sahabat Rasulullah SAW. Seperti yang disampaikan oleh al-Mughirah bin Syu’bah, seorang sahabat. “Ketika aku menyaksikan manusia mati dan berakhir, maka aku berpikir dan yakin bahwa Allah SWT akan membangkitkan mereka, dan membalas segala perbuatan, baik dan buruknya. Dan pikiran inilah yang mendorong aku untuk memeluk Islam”.

Demikianlah hari pembalasan. Hari yang Allah SWT sebutkan, “Yaitu hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS Asyu’ara: 88-89). Wallahua’lam.


Artikel oleh: Ustadz Adi Setiawan, Lc, MEI | Biro Kepatuhan Syariah PKPU | Email: ibnu_mustofa@yahoo.com | Follow twitter: @ibnumustofa



Artikel Terkait:



4 komentar :

Posting Komentar