RUMAH MOTIVASI ONLINE, ditulis oleh Cecep Y Pramana
Twitter: @CepPangeran |
Path: Cepy Pramana | Facebook: Cepy Pramana | Instagram: CepPangeran | Foursquare: Cecep Y Pramana | Kompasiana: cepypramana


Kamis, 22 Januari 2015

Kisah Batu dan Harta Terpendam

Seorang ibu tersenyum kepada istri anaknya setelah berlalu bulan madu keduanya. Dia berkata, “Engkau telah membuat putraku rajin shalat ke masjid. Engkau berhasil dalam waktu 30 hari saja, padahal aku telah berusaha menasihatinya selama 30 tahun!”

Menantunya itupun mengalirkan air mata. Sang menantu berkata, “Apakah anda telah mengetahui wahai ibuku, kisah tentang batu dan harta? Dikisahkan bahwasannya ada sebuah batu besar yang menghalangi jalannya manusia.

Maka seorang laki-laki dengan sukarela berusaha memecahkan batu itu dan menyingkirkannya. Dia memukul batu itu dengan kapak hingga 99 kali, tapi batu itu tidak bergeming. Dia sangat kelelahan.

Ketika itu, datanglah seorang laki-laki dan menawarkan bantuan. Dia memukul batu besar itu dengan kapak dengan sekali pukulan, tiba-tiba batu itu pun pecah! Ternyata di bawah batu itu terdapat sekantung emas.

Berkatalah laki-laki kedua ini, “Emas ini adalah milikku, karena akulah yang telah memecahkan batu ini!” Keduanya pun mencari keadilan kepada hakim. Orang yang bertama berkata, “Hendaknya sebagian harta itu diberikan kepadaku, karena aku telah memukul batu itu sebanyak 99 pukulan, kemudian aku sampai kelelahan!”

Laki-laki kedua berkata, “Tidak, harta itu adalah milikku seluruhnya, karena akulah yang memecahkan batu itu!”. Kemudian Hakim itu berkata, “Engkau wahai laki-laki yang pertama, engkau mendapatkan 99 bagian dari harta ini, adapun engkau laki-laki yang memecahkan batu, bagimu satu bagian saja, seandainya laki-laki pertama ini tidak memukulnya sampai 99 kali maka batu itu tidak akan pecah pada pukulan ke 100!”

Sungguh, di dalam kisah ini terdapat pelajaran akhlak yang agung. Pertama, akhlak seorang ibu. Seorang ibu yang telah berusaha menasihati putranya untuk shalat selama 30 tahun tanpa putus asa, kemudian dia merasa gembira dengan anaknya yang shalat karena pengaruh dari istrinya, meskipun anaknya itu tidak memedulikan nasihat ibunya selama 30 tahun!

Kedua, akhlak menantu yang agung. Dia tidak menyematkan keutamaan kepada dirinya, bahkan dia menjadikan keutamaan itu sepenuhnya milik ibu tersebut, karena ibu itu telah meletakkan asas kepada anaknya, satu demi satu hingga tersisa satu bagian terakhir, yang disempurnakan oleh dirinya.

Sudahkah anda demikian…??? Semoga kita termasuk yang disampaikan oleh Nabi SAW: Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Rasulullah shallallau ‘alaihi wasallam berasabda: “Sebaik-baik kalian adalah (suami) yang paling baik terhadap keluarganya dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku”. (HR Tirmidzi dan dishahihkan oleh al-Albani di dalam Ash Shahihah no. 285). Amiin


:: Artikel oleh: Ustadz Dr H Agus Setiawan, Lc, MA | sekarang tinggal di Cempaka Putih, Jakarta Pusat | Follow twitter: @doktoragus



Artikel Terkait:



0 komentar :

Posting Komentar