RUMAH MOTIVASI ONLINE, ditulis oleh Cecep Y Pramana
Twitter: @CepPangeran |
Path: Cepy Pramana | Facebook: Cepy Pramana | Instagram: CepPangeran | Foursquare: Cecep Y Pramana | Kompasiana: cepypramana


Kamis, 11 Desember 2014

Kebaikan dan Keburukan


Syaikh Rasyid Ridha dalam tafsirnya ketika memberikan penjelasan mengenai ayat 286, ayat terakhir dalam surat Al Baqarah, khususnya penggalan, “lahaa maa kasabat wa alaihaa maktasabat”. Beliau mengatakan, kata kasabat bermakna kebaikan sedangkan iktasabat bermakna keburukan. Keduanya memiliki unsur kata yang sama, ka-sa-ba.

Menurutnya, kata kasabat dan iktasabat serupa dengan pemaknaan sami'a (mendengar) dan istama'a (mendengarkan). Mendengar lebih mudah daripada mendengarkan. Mendengar memerlukan tenaga yang lebih sedikit daripada mendengarkan, karena dalam kata mendengar tidak terkandung unsur perhatian, keseriusan dan intensitas sebagaimana mendengarkan.

Oleh karena itu, mendengar lebih mudah dilakukan orang daripada mendengarkan. Demikian pula, kebaikan seharusnya lebih gampang dilakukan orang daripada keburukan. Karena kebaikan adalah fitrah manusia, sehingga mengerjakan sesuatu yang sesuai dengan fitrah akan lebih mudah dan ringan.

Kebaikan dan keburukan berada dimana-mana. Kedua-duanya memang tak mungkin dihilangkan sama sekali. Tak mungkin kebaikan terhilangkan dari muka bumi, sebagaimana keburukan juga tak mungkin lenyap seluruhnya.

Akan tetapi permasalahannya, kita hanya disuruh menebarkan kebajikan dan meminimalisir keburukan. Untuk itulah Allah SWT menyediakan surga dan neraka. Untuk itu pula lah Allah SWT menyediakan rahmat dan siksa. Untuk itulah ada pahala dan dosa.

Yang bisa kita lakukan hanyalah terus bekerja menjaga fitrah kebaikan manusia. Sesungguhnya mengerjakan kebaikan itu lebih mudah dibandingkan keburukan, karena kebaikan adalah fitrah kelahiran setiap manusia. | Cecep Y Pramana @CepPangeran


Artikel Terkait:



4 komentar :

Posting Komentar