RUMAH MOTIVASI ONLINE, ditulis oleh Cecep Y Pramana
Twitter: @CepPangeran |
Path: Cepy Pramana | Facebook: Cepy Pramana | Instagram: CepPangeran | Foursquare: Cecep Y Pramana | Kompasiana: cepypramana


Sabtu, 06 Desember 2014

Bersiap Menuju Body Rafting Green Canyon (2)


Setelah rombongan yang ikut sebanyak 18 orang (Cecep Y Pramana, Winarto, Dwi Heryanto, Asep, Rudi Lesmana, Dian Parikesit, M. Musa, Daniel Hasmy, Daru Prihutomo, Tulus Wijihono, Zainal Arifin, Sukijan, Dwi Yusuf, bang Juhri, Enties, Yudi Iswara, Asep Habib dan Lisman Kartono. Sedangkan yang berhalangan untuk ikut body rafting adalah Heri Triatmoko, Puji Wirawan dan Saipul Hidayat) semuanya ganti baju.

Selanjutnya panitia dari GUHA BAU Body Rafting meminta kami untuk mencari dan mengenakan perlengkapan untuk body rafting dari mulai life vest (jaket pelampung), coral shoe (sepatu khusus untuk berjalan di batu karang) dan helm.

Melihat sepatu sandal yang warna warni kayak sepatu ninja, banyak kawan yang berkelakar dan melucu dengan sepatu sandal tersebut.

Selanjutnya, kami semua diminta untuk memakai baju pelampung yang ada bantalan di kepalanya, dan juga pakai helm. Persiapan pun selesai termasuk saya yang cukup lama mencari pelampung yang ukuran jumbo alias besar dan muat dibadan saya.

Selanjutnya, sebelum memulai kegiatan, kami semua di briefing dulu mengenai tata cara kegiatan body rafting oleh petugas GUHA BAU Body Rafting:

“Kawan-kawan semuanya, mohon perhatiannya. Sebelum kegiatan body rafting ini dimulai, saya akan menginformasikan beberapa hal agar menjadi maklum,” kata petugas GUHA BAU Body Rafting.

Pertama, hormati alam.

Kedua, kalau bisa jangan berkata kotor atau tidak sopan saat kegiatan.

Ketiga, jangan buang sampah sembarangan. Kumpulkan dalam plastik, dan titip kan di dry bag milik pemandu.

Keempat, jika ada yang membawa handphone (HP), atau kamera yang akan dibawa untuk foto-foto, mohon titipkan juga di dry bag milik pemandu.

Kelima, disarankan jangan mengambil sesuatu dari Green Canyon walaupun sangat menarik perhatian seperti batu untuk di koleksi.

Keenam, kalau nanti di lapangan ketemu jeram, posisikan tubuh telentang, dengan posisi kaki di depan.

Hal ini untuk menjaga kita dari nabrak batu kepala duluan. Selain itu agar air tidak masuk mulut ataupun hidung, tahan napas saat di jeram.

Tenang saja, kita tidak bakal lewat jeram sendiri-sendiri, biasanya ada 3-5 orang berbaris ke belakang sambil telentang. Tangan orang yang dibelakang memegang bahu pelampung orang yang di depannya, dan kakinya diselonjorkan ke depan menjepit ke arah badan orang yang di depannya.

Nanti pemandu akan berada paling belakang, selain untuk mengarahkan, juga yang mengasih tahu jika mau ada jeram di depan, agar kita siap-siap. Selain itu juga akan memberitahu kapan harus tahan napas agar kita tidak kemasukan air.

Terakhir, dan yang terpenting adalah berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Semoga kegiatan yang akan dijalani dilindunginya. Demikian dari petugas GUHA BAU Body Rafting menginformasikan kepada seluruh peserta.

Setelah semua siap, selanjutnya peserta Body Rafting dinaikkan ke pick-up untuk berangkat menuju check point di mana peserta akan memulai kegiatan Body Rafting.

Selanjutnya rombongan dibawa menyusuri jalanan gunung berbatu, menanjak terus hingga setengah jam sampai tiba di tempat pemberhentian, lalu turun di sebuah gubug untuk istirahat.

Cukup sudah beristirahat dan foto-foto bersama, kami melanjutkan lagi ke check point keberangkatan body rafting dengan berjalan kaki selama 20-30 menit menuruni anak tangga, di tanah lembab berbatu, naik turun jalan setapak yang sudah dibuat nyaman agar tidak terpeleset. Melewati rimbunnya semak belukar dengan dihiasi pepohonan namun semuanya itu aman dari binatang membahayakan.

Dari atas sama sekali tidak kelihatan dasarnya. Namun menurut si pemandu kedalamannya sekitar 75 m.

Bau yang cukup menyengat yang keluar dari lubang tersebut katanya berasal kotoran kelelawar yang banyak menghuni di dalam gua. Sedikit licin jalan yang dilalui sebelum sampai di mulut gua.

Setibanya di sungai Cijulang, kami berjalan sedikit di tepiannya dan segera mendapati Gua Kelelawar tersebut.

Terlihat, gua tersebut terdapat tumpukan kotoran kelelawar yang hampir mustahil untuk dibersihkan. Tepat di depan mulut Guha Bau arus sungai Cijulang terlihat sedikit deras, inilah perjalanan body rafting di mulai dengan turun ke sungai.

Sebelum menceburkan diri dengan melompat kedalam air, saya bersama rombongan foto bersama di depan Guha Bau (Goa Kelelawar) beberapa kali jepretan dengan peserta dan pemandu. Selanjutnya seorang instruktur/pemandu dari GUHA BAU Body Rafting memberikan sedikit pengarahan sebelum turun ke sungai.






























Artikel Terkait:



2 komentar :

Posting Komentar