RUMAH MOTIVASI ONLINE, ditulis oleh Cecep Y Pramana
Twitter: @CepPangeran |
Path: Cepy Pramana | Facebook: Cepy Pramana | Instagram: CepPangeran | Foursquare: Cecep Y Pramana | Kompasiana: cepypramana


Senin, 16 Juni 2014

Bersyukur Setiap Saat


Dikisahkan, suatu hari sahabat Salman Al Farisi menderita sakit dan Rasulullah SAW menjenguk sahabatnya yang ia beri gelar “Pemilik ilmu orang-orang terdahulu dan ilmu orang-orang kemudian” itu.

Rasulullah SAW berusaha menghiburnya. “Sesungguhnya ada tiga pahala yang menjadi kepunyaanmu di kala sakit”, ucap Rasulullah dengan lembut kepada Salman. “Engkau sedang mendapat peringatan dari Allah, doamu dikabulkan-Nya, dan penyakit yang menimpamu akan menghapuskan dosa-dosamu”. Lalu, “Semoga Allah menggembirakanmu dengan kesehatan sampai ajalmu datang“, lanjut Rasulullah.

Ada yang menarik dari ungkapan Rasulullah di atas. Walau beliau mengatakan ada tiga pahala pada saat sakit, tetapi Rasulullah mengakhiri perkataannya dengan “Semoga Allah menggembirakanmu dengan kesehatan sampai ajalmu tiba”.

Jadi, sakit itu berpahala. Namun kita tidak boleh mengharapkan kedatangannya, apalagi mencari jalan agar dapat sakit. Rasulullah SAW tetap mendoakan sahabat Salman Al Farisi agar diberi kesehatan hingga akhir hayatnya.

Akan tetapi, jika suatu saat kita mengalami sakit, maka kita harus ingat nasihat Rasulullah kepada Salman, menggunakan kesempatan sakit untuk memperbanyak mengingat Allah SWT, perbanyak istighfar (memohon ampunan), dan meminta kepada-Nya agar tiga pahala bagi orang yang sakit itu dapat kita raih.

Inilah salah satu konsep mendasar di dalam Islam, agama rahmat, yang mengelola segala hiruk-pikuk dunia dengan bijak. Seorang muslim dididik untuk tidak meminta sakit, mengharap bencana, merindukan musuh dalam pertempuran, apalagi menceburkan diri dalam kejelekan atau keburukan.

Namun, jika atas kehendak Allah SWT semua itu terjadi, maka harus dihadapi. Umat Islam harus punya sikap dan cara pandang yang jernih dan berwibawa. Tidak ada rasa takut apalagi jadi pengecut, karena di balik kesusahan itu menanti pahala besar dari Allah SWT.

Dengan demikian, tolak ukurnya adalah bagaimana Allah SWT memberi kita keridhaan. Bila kita selalu sehat, selain harus bersyukur, juga mesti waspada. Mungkin saja kita telah banyak berbuat dosa tetapi tidak pernah mendapat teguran dari Allah SWT, atau doa kita juga jarang diterima dan kabulkan-Nya.

Sebaliknya, bila rasa sakit dan berbagai ujian lain menimpa kita, selain sabar, maka kita juga jangan sampai terlalu sedih, apalagi sampai melukai diri. Siapa tahu, itulah wujud dari kasih sayang Allah SWT kepada kita. Agar kita dapat muhasabah (introspeksi) diri, banyak beristighfar, dan semakin dekat kepada-Nya.

Atas dasar itulah, terkadang kita sulit merasakan, mana yang harus lebih kita syukuri. Apakah dikala kita sehat dan diberi kekuatan beramal dan sedekah, ataukah di saat sakit ketika Allah SWT menyadarkan kekhilafan (kesalahan) kita, menghapuskan dosa-dosa kita, dan mengabulkan doa-doa kita.

Yang pasti, tidak ada yang tidak dapat kita syukuri. Rasa syukur kita harus dilakukan setiap saat, agar kita tidak di cap oleh Allah SWT sebagai orang yang mengingkari nikmat-Nya (QS Ibrahim: 7). Teori hidup yang diberikan Islam, secara sepintas lalu bisa jadi sulit dirasionalkan. Namun, segala kondisi yang dialami setiap mukmin, harus dibingkai dalam kerangka mencari keridhaan Allah SWT.

Sungguh mengagumkan urusan kaum muslimin. Segala urusannya selalu baik baginya. Bila ia diberi kesenangan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Dan bila ditimpa kesusahan, ia bersabar, dan itu baik baginya. Wallahu’alam


Artikel Terkait:



0 komentar :

Posting Komentar